Road Trip Pulang Kampung, Setelah 10 Tahun

    Setelah sepuluh tahun lamanya saya tidak pulang ke kampung halaman, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman saya yang berada di Toraja Utara. Keputusan ini sebenarnya cukup mendadak hanya lima hari sebelum keberangkatan. Awalnya, tujuannya yaitu ingin melepas rindu dengan kakek, nenek, dan keluarga, serta berziarah ke makam kakek dari ayah. Namun, sesampainya di sana, saya baru tahu kalau keluarga sedang bersiap untuk upacara kematian saudara nenek saya. Jadi, kepulangan yang awalnya hanya untuk melepas rindu, ternayata juga membawa saya pada pengalaman dengan suasana duka dan tradisi yang penuh makna.

    Saat sampai di Toraja, saya langsung dapat merasakan suasana yang sangat berbeda dan aroma khasnya sama seperti 10 tahun yang lalu. Suasana adat terasa dimana - mana mulai dari rumah adat nya yaitu tongkonan yang berdiri megah dan melihat orang yang sedang sibuk untuk mempersiapkan upacara  adat. Bagi masyarakat Toraja, kematian bukan sekadar duka, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan baru di alam baka. Karena itu, setiap prosesi dijalankan dengan penuh doa, penghormatan, dan rasa kebersamaan yang kuat.

Kerbau (tedong) yang dipersiapkan untuk dipersembahkan

    Salah satu hal yang tidak asing jika ada upacara adat kematian dalam Toraja adalah deretan kerbau yang sudah dipersiapkan untuk dipersembahkan. Dalam budaya Toraja, kerbau memiliki makna penting sebagai persembahan kepada leluhur dan arwah orang yang telah dipanggil. Di antara semuanya, kerbau putih atau tedong bonga dianggap paling sakral karena melambangkan kesucian dan penghormatan tertinggi, dan kerbau ini wajib ada di dalam setiap upcara adat kematian yang dilakukan. Masyarakat Toraja percaya bahwa kerbau adalah kendaraan roh menuju alam baka, semakin banyak kerbau yang dipersembahkan, semakin tinggi pula kehormatan yang diterima arwah di alam sana. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya nilai spiritual dan penghormatan terhadap leluhur di masyarakat Toraja.

Adu kerbau (tedong silaga) sebagai simbol kekuatan dan penghormatan

    Selain itu, saya juga sempat menyaksikan tedong silaga, atau adu kerbau. Awalnya saya mengira ini hanya hiburan, tapi ternyata tidak sesederhana itu. Dari penjelasan keluarga saya, tedong silaga merupakan simbol kekuatan, keberanian, dan bentuk penghormatan bagi keluarga yang berduka. Setiap kerbau yang bertarung diperlakukan dengan penuh hormat, karena dipercaya dapat membawa semangat dan kekuatan bagi keluarga yang sedang berduka dan yang ditinggalkan. Momen ini membuat saya semakin memahami bahwa bagi masyarakat Toraja, tradisi bukan sekadar acara, tetapi juga wujud cinta dan rasa hormat kepada mereka yang telah tiada.

Tarian Ma'badong sebagai ungkapan duka dan doa bagi arwah

    Menjelang akhir upacara, saya menyaksikan ada tarian Ma’badong. Dalam tarian ini, orang yang sudah dipilih dan yang mau ikutan menari, berdiri melingkar sambil bergandengan tangan dan melantunkan syair dalam bahasa Toraja kuno. Gerakannya mungkin terlihat sederhana dan terlihat biasa saja, tapi suasananya sangat menyentuh dan bermakna. Tarian ini menjadi ungkapan duka dan doa terakhir untuk arwah yang telah pergi, sekaligus melambangkan kebersamaan dan solidaritas masyarakat. Tarian Ma’badong, menunjukkan bahwa duka bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang rasa hormat dan kebersamaan dalam melepas kepergian yang telah dipanggil dengan penuh makna.

    Kepulangan kali ini akan menjadi peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan. Pada awalnya, tujuan saya hanya untuk berziarah dan bertemu keluarga namun, saya pulang dengan mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan baru tentang adat istiadat daerah saya sendiri, yang sudah lama saya lupakan. Masyarakat disana masih tetap menjaga tradisi adat dan menghormati leluhur dengan penuh rasa kebersamaan. Saya menjadi teringat kembali sewaktu kedatangan saya  pada sepuluh tahun yang lalu, dan terasa seperti membawa kembali kenangan dari masa kecil saya saat pulang ke Toraja.


Zheina Tandi Rerung
24080230358
Manajemen B20
Universitas Negeri Yogyakarta

Komentar

Postingan Populer